All About Indonesia

Kalahkan Andy Lau, Donny Damara Raih Gelar “Aktor Terbaik Asia 2012″ (PLUS DAFTAR PEMENANG)

26 Mar 2012 - 10:21 WIB

64a0fa103b247acf8576cdb2920acf96_2003donny-damara

Kabar suka cita diterima dunia perfilman Indonesia. Dalam ajang Asian Film Awards (AFA) 2012 di Hong Kong, aktor Donny Damara (45) dinobatkan sebagai yang terbaik.

Kabar itu sungguh merupakan angin segar bagi perfilman Indonesia yang kini bisa dibilang mulai bangkit kembali, setelah mati suri sejak 20 tahun lalu. Itu sekaligus hiburan menyejukkan bagi Donny, yang rumah tangganya tengah dilanda kemelut.

Donny meraih predikat bergengsi tersebut melalui film Lovely Man yang disutradari Teddy Soeriatmaja. Donny menyisihkan bintang-bintang Asia seperti Chen Kun (Flying Swords of Dragon Gate), Park Hae Il (War of the Arrows), Yakusho Koji (Chronicle of My Mother), dan mega bintang Hong Kong, Andy Lau (A Simple Life). Padahal, A Simple Life sudah memenangi beberapa penghargaan di beberapa kategori seperti dalam Festival Film Internasional Venesia, Golden Horse, Hong Kong Film Critics Society Award, dan sebagainya. Andy Lau sendiri meraih penghargaan aktor terbaik di Golden Horse 2011.

Donny berharap kemenangannya menjadi bukti bahwa film Indonesia mampu berbicara banyak di kancah internasional. Di sisi lain, minat penonton film lokal akan meningkat, karena banyak film Indonesia yang dibuat sepenuh hati dan menghasilkan karya yang luar biasa. Yang pasti saya bangga mewakili Indonesia memenangi penghargaan ini, ujarnya merendah.

Dihubungi via telepon, semalam, Donny menuturkan bahwa dirinya masih berada di Hong Kong. Dia tengah bersiap-siap menghadiri jamuan makan malam yang digelar penyelenggara. Donny juga harus menghadiri beberapa acara lain yang berkaitan dengan kemenangannya itu. Dia baru akan kembali ke Jakarta, Minggu (25/3). Donny pun mengungkapkan rasa senang dan bangga bisa membawa film Indonesia berbicara di level yang lebih tinggi.

Ketika menerima penghargaan, Donny juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Asian Film Awards yang telah memberi penghargaan kepada film Indonesia. Selain Donny sebagai aktor pria terbaik, Lovely Man juga membawa Teddy Soeriatmadja sebagai nomine sutradara terbaik. Predikat itu diraih Asghar Farhadi melalui film A Separation.

Donny menuturkan, peran sebagai Ipuy, seorang transgender di Lovely Man, merupakan tantangan luar biasa. Ipuy adalah karakter yang unik dan sudah lama dia inginkan. Selama ini saya mendapat peran sebagai pria biasa dengan berbagai karakter, tetapi Ipuy atau Syaiful di Lovely Man adalah seorang transgender yang memiliki karakter yang sangat kompleks. Belum lagi konflik yang harus dia hadapi sebagai waria dan persoalan kehidupan yang harus dijalani. Apalagi kemudian dia dihadapkan pada kenyataan, bahwa dia juga ayah dari seorang gadis berjilbab. Sungguh bukan peran yang mudah, ungkapnya.

Ketika ditawari peran itu, Donny sangat tertantang untuk menampilkan karakter Ipuy seapik mungkin. Tanpa sungkan-sungkan, dia bergaul akrab dengan sejumlah waria. Bukan sekadar untuk menirukan gaya bicara atau berjalan, melainkan memahami konflik kejiwaan yang mereka hadapi. Dari situlah Donny menemukan karakter Ipuy yang diinginkan sesuai naskah.

Peran Donny sebagai Syaiful alias Ipuy memang luar biasa. Dia mampu menampilkan kegetiran hidup yang harus dijalani si waria tanpa banyak berkata-kata. Melalui gestur dan sorot mata, dia mampu mengabarkan pada penonton, betapa kelam persoalan yang harus dia lakoni sebagai transgender yang terpaksa bekerja di jalanan. Belum lagi persoalan yang harus dia hadapi ketika mencuri puluhan juta rupiah dari sekelompok mafia.

Hal itu membawanya menjadi waria paling dicari di Jakarta. Perbincangannya dengan Cahaya (Raihanun Soeriatmadja), anaknya yang berusia 19 tahun, makin memperdalam kesan itu. Cahaya, lulusan sebuah pesantren, datang ke Jakarta untuk mencari sang ayah yang meninggalkannya sejak dia berumur 4 tahun. Cahaya yang berjilbab harus menelan kekecewaan, ketika mendapati ayahnya adalah seorang transgender. Sementara, Cahaya datang bukan tanpa beban. Di perutnya tumbuh janin berumur 8 minggu hasil hubungan dengan sang pacar.

Persoalan demi persoalan yang ditampilkan Teddy dalam Lovely Man membuat penonton mampu mendalami Jakarta dari sisi buram. Dalam film ini, kemegahan Jakartalah yang justru dikaburkan dengan menampilkan gambar yang hanya fokus pada kedua tokoh tersebut, dan gemerlap Jakarta sebagai latar belakang yang kabur.

Selain di Asian Film Awards 2012, film itu juga mendapat penghargaan Special Mention untuk produsernya, Indra Tamorron Musu, dalam Osaka Asian Film Festival yang digelar di Osaka, Jepang, 9-18 Maret 2012. Lovely Man juga diputar di Palm Spring Festival pada 11 dan 15 Januari 2012.

Dukungan Keluarga
Donny mengaku perannya sebagai Ipuy bukan peran gampang. Namun ayah dari seorang anak bernama Sharottama Osmar Damara itu berhasil menjalaninya dengan dukungan banyak orang, terutama keluarga terdekat.

`’Mereka benar-benar mendukung saya. Semua teman, anggota keluarga. Semua mendukung karena tahu bahwa saya harus memisahkan antara peran di layar dan hidup saya di dunia nyata,” ujarnya usai menerima penghargaan.

Sejak AFA digelar mulai 2007, baru kali ini Indonesia meraih penghargaan pada salah satu dari enam kategori bergengsi (film terbaik, sutradara terbaik, aktor terbaik, aktris terbaik, aktor pendukung terbaik, dan aktris pendukung terbaik).

Donny Damara mulai menapaki karier di dunia hiburan sebagai model pada era 1980-an. Lulusan FISIP UI itu kemudian beralih ke dunia film melalui Cinta Anak Jaman (1988). Tahun 1991 dia masuk nominasi Pemeran Pendukung Terbaik dalam Festival Film Indonesia melalui film Perwira dan Ksatria.

Dia sempat banting setir ke dunia sinetron ketika film Indonesia tengah mati suri. Sejumlah sinetron dia bintangi, seperti Bukan Perempuan Biasa, Bidadari yang Terluka, dan terakhir Perempuan Pilihan yang akan tayang April mendatang.

Berikut daftar lengkap pemenang Asian Film Awards 2012:

Best Film: A Separation (Iran)

Best Director: Asghar Farhadi (A Separation — Iran)

Best Actor: Donny Damara (Lovely Man — Indonesia)

Best Actress: Deanie Ip (A Simple Life — Hong Kong)

Best Newcomer: Ni Ni (The Flowers of War — Mainland China)

Best Supporting Actor: Lawrence Ko (Jump! Ashin — Taiwan)

Best Supporting Actress: Shamaine Buencamino (Nino — The Philippines)

Best Screenwriter: Asghar Farhadi (A Separation — Iran)

Best Cinematographer: Jake Pollock, Lai Yiu-fai (Wu Xia — Mainland China/Hong Kong)

Best Production Designer: Yee Chung-man, Sun Li (Wu Xia — Mainland China/Hong Kong)

Best Composer: Chan Kwong-wing, Peter Kam, Chatchai Pongprapaphan (Wu Xia — Mainland China/ Hong Kong)

Best Editor: Hayedeh Safiyari (A Separation — Iran)

Best Visual Effects: Wook Kim, Josh Cole, Frankie Chung (The Flying Swords of Dragon Gate — Hong Kong/Mainland China)

Best Costume Designer: Yee Chung-man, Lai Hsuan-wu (The Flying Swords of Dragon Gate — Hong Kong/Mainland Chia)

The Edward Yang New Talent Award: Edwin (Indonesia)

Lifetime Achievement Award: Ann Hui (Hong Kong)

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/gYTc5z9efLk" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

(Sumber : www.suaramerdeka.com)


TAGS   Film /


Author

Recent Post

Komentar

Archive