All About Indonesia

Indonesia Jadi Basis Produksi Serat Rayon Terbesar di Dunia

19 Jan 2011 - 11:25 WIB

south-pacific-viscose-indonesiaproud

Grup Lenzing yang berbasis di Austria menambah investasinya di Indonesia sebesar 130 juta dollar AS (sekitar 1,3 triliun rupiah) dengan memperluas pabrik anak perusahaannya PT South Pacific Viscose (SPV) dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi rayon terbesar di dunia.

CEO Grup Lenzing Peter Untersperger, dalam jumpa pers di Jakarta pada 13 Januari 2011, mengatakan bahwa investasi ini dilakukan untuk membangun line produksi jumbo dalam dua tahun. Selama ini, SPV sudah membangun empat line produksi serat rayon dengan total kapasitas produksi 245.000 metrik ton per tahun. Dengan investasi ini, kapasitas produksi bertambah 80.000 metrik ton per tahun sehingga total kapasitas produksi 325.000 metrik ton per tahun.

Selain serat rayon, keempat line itu juga sudah menghasilkan sodium sulphate dengan produksi 142.000 metrik ton per tahun. Pembangunan line lima ditargetkan meningkatkan kapasitas sodium sulphate menjadi 188.000 metrik ton per tahun. Pabrik dengan bahan baku bubur (pulp) kayu impor itu terletak di Purwakarta, Jawa Barat.

Peter menjelaskan, Keputusan investasi ini dilakukan langsung setelah selesainya investasi peningkatan kapasitas produksi senilai 170 juta dollar AS sejak tahun 2008 hingga 2010. Dalam tiga dekade ini, investasi Lenzing untuk SPV sudah mencapai 700 juta dollar AS.

Pabrik line lima juga akan memproduksi serat rayon (viscose) berkualitas tinggi untuk mendukung industri tekstil di Indonesia dan terutama fokus pada serat cerah (bright fiber) dengan teknologi pemintalan berkecepatan tinggi. Rancang bangun dan desain line lima mengikuti standar Lenzing untuk line produksi di Asia, yang merupakan konsep line produksi serat rayon tunggal terbesar di dunia.

Kami ingin menjadi terdepan dalam inovasi serat rayon. SPV pun menjadi basis produksi Lenzing di Asia, ujar Peter.

Presiden Direktur SPV Wolfram Kalt mengatakan, konsumsi serat rayon cenderung meningkat. Serat rayon berasal dari kayu sehingga industri ini tidak bergantung sama sekali dengan kapas yang saat ini sedang sulit. Karena itu, pihaknya menjamin pasokan di pasar dunia.

Menurut Wolfram, pihaknya memahami kondisi Indonesia yang dinamis. Teknologi tinggi pemintalan yang digunakannya mampu melakukan efisiensi dalam penggunaan energi ataupun air.

Saat berlangsungnya proyek line lima, sekitar 1.000 pekerja lokal yang dilibatkan. Setelah proyek ini selesai, diperkirakan ada 300 pekerja permanen yang akan bekerja di line lima sehingga total tenaga kerja permanen SPV mencapai 1.900 orang, kata Wolfram.

Direktur Jenderal Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan, ketergantungan produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap bahan baku, seperti kapas, serat rayon, dan sintetik, sangat tinggi. Diharapkan, kebutuhan domestik lebih diutamakan oleh SPV daripada untuk memenuhi ekspor walaupun kegiatan ekspor juga menghasilkan devisa bagi negara.

(Sumber: Kompas)


TAGS   Teknologi /


Author

Recent Post

Komentar

Archive